Kediri (Antaranews Jatim) - Bupati Kediri Haryanti Sutrisno meresmikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Simpang Lima Gumul (SLG) di Desa Tugurejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang merupakan rumah sakit umum daerah kedua di kabupaten ini.

"Kami telah anggarkan secara `multy years`, sehingga sudah terbangun rumah sakit ini. Lalu bagaimana dengan RSUD Pare?. Bahwa RSUD Pare tetap berdiri seperti semula, sehingga Kabupaten Kediri punya dua rumah sakit," kata Bupati Kediri setelah peresmian rumah sakit itu di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Selasa.

Ia mengatakan, pendirian rumah sakit ini memang bertujuan agar pelayanan kesehatan bisa lebih terjangkau. Warga di kabupaten bagian selatan seperti Kecamatan Ngadiluwih, Kras maupun yang di barat Sungai Brantas seperti Kecamatan Tarokan, bisa mendapatkan akses kesehatan lebih dekt.

Untuk RSUD Pare, nantinya bisa terjangkau untuk warga bagian utara misalnya Kecamatan Pare, Kepung dan sejumlah kecamatan lainnya. Masyarakat masih tetap bisa mendapatkan pelayanan terbaik, sebab di RSUD Pare masuk kategori B, sementara di RSUD SLG masih masuk kategori C.

"Kami upayakan penyediaana sarana prasarana dan optimalkan. Rencana saya dulu bisa radioterapi, itu untuk pengobatan pasien yang menderita kanker tapi terbentur aturan, bahwa yang bisa untuk radioterapi harus tipe B, sementara ini masih C," ujar Bupati.

Ia juga menambahkan, rencana operasional RSUD SLG Kabupaten Kediri itu akan dilakukan pada Januari 2019. Namun, ia meminta agar petugas ke depan bisa melakukan tugasnya dengan ramah dan senang hati, memberlakukan pasien dengan baik.

"Alat canggih dan SDM siap melayani masyarkat dengan baik dan perhatian. Ini nomor satu. Jika alat canggih karyawan cuek, sayang alatnya," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Adi Laksono mengungkapkan, pembangunan rumah sakit ini dimulai sejak 2016 hingga 2017 dengan anggaran sekitar Rp234 miliar, dengan menempati lahan seluas 70.238 meter persegi dengan luas bangunan 22.469 meter persegi.

Fasilitas di rumah sakit itu misalnya instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, bedah sentral, rehabilitasi medik, perawatan intensif, laboratorium, radiologi, farmasi, gizi, dan sejumlah fasilitas lainnya.

Untuk saat ini, kapasitas tempat tidur di rumah sakit itu untuk pelayanan rawat inap masih sekitar 66 unit, baik di kelas paviliun, kelas satu, dua, tiga, serta perawatan intensif. Namun, ke depan secara bertahap akan ditambah fasilitas tempat tidur itu, sehingga masyarakat bisa terlayani dengan baik.

"Kami juga kerjasama dengan BPJS. Untuk warga miskin, pemkab menjami dengan jamkesda (jaminan kesehatan daerah) dan ini komitmen pemkab. Kelas tiga harus lebih banyak ketimbang kelas dua," tegas Adi.

Dalam acara itu, selain dihadiri Bupati Kediri, juga Wakil Bupati Kediri Masykuri, serta berbagai tamu undangan lainnya. Bupati dan rombongan sempat melihat ruang-ruang pelayanan di rumah sakit tersebut serta semua peralatannya. (*)